Sejarah YISC Al-Azhar
Mei 1971, Rabu sore itu Majelis Taklim Kaum Ibu Masjid Al-Azhar berlangsung marak. Tema yang dibahas cukup menarik para jamaah, yakni masalah keluarga di kota besar yang sedang mengalami disiintegrasi pada periode awal pembangunan nasional. Majelis Taklim kaum ibu itu ternyata juga banyak dihadiri oleh remaja putri (yang belum menikah) sementara topik yang dibahas dalam pengajian itu tidak hanya terbatas hanya pada topik mengatur rumah tangga, merawat anak, mendisain rumah, manajemen keuangan dan perilaku suami yang nyeleneh setelah naik daun dalam karirnya, juga kadang membahas masalah sex. Pembahasan yang dibawakan oleh pembicara secara terbuka dan secara terus terang populer dan memikat tersebut tak urung kadang membuat susana yang riuh. Tak terkecuali senyum yang dikulum, tawa tertahan disertai rona wajah juga milik dua gadis yan duduk di pojok masjid. Mereka adalah Farida Hayati Tobri, dan Filomena Ibrahim yang kala itu masih muda belia. Mereka berdua masih duduk di tingkat I Universitas Indonesia. Rona merah yang tergores pada wajah mereka menunjukkan rasa sungkan dan malu mendengar pengajian tersebut. Diam-diam, hal itu diperhatikan oleh seorang ibu yang duduk disamping mereka. Ibu yang arif itu, ibu R. Basari Husna adalah salah seorang pengurus Pengajian Ibu-ibu Al-Azhar Rabu Sore.
Dengan jiwa keibuannya, Ibu Basari Husna dapat mereasakan betapa sungkan-nya kedua gadis itu menyusaikan diri dengan ibu-ibu di Majlis tersebut. Adat-istiadat mengajarkan, remaja seperti mereka belum patut mengetahui banyak romantika asmara dan keluarga. Dengan bijak, ibu Basari mendekati kedua remaja itu untuk saling kenal dan bertukar pikiran tentang cita-cita dan keIslaman. Gayung bersambut, kata berjawab, akhirnya muncullah kesepakatan untuk melahirkan pengajian yang dikelola oleh dan untuk kaum remaja.
Rintisan itu mulanya dikonfirmasikan dengan beberapa mahasiswa yang demen nongkrong di Masjid Al-Azhar, antara lain Sabit Kertalegawa, Muhammmad Anwar, Euis Rodiah dan banyak lagi yang lainnya sehingga terkumpul 20 orang remaja.Saat itu dilakukan usaha penghimpunan dana dan berhasil terkumpul sejumlah 70 ribu rupiah (cukup lumayan untuk masa itu). Pengajian perdana pun dimulai pada tanggal 2 Rabi'ul Awal 1391 H, bertepatan dengan Maulid Nabi Muhammad SAW atau tanggal 16 Mei 1971 M. Penceramah kala itu adalah Bapak Prof. Usman Ralibi. Tanggal tersebut kemudian disepakati sebagai hari jadi (Milad) Youth Islamic Study Club (YISC) Al-Azhar, Organisasi yang berada di bawah naungan YPI Al-Azhar Bagian Kepemudaan.
Alhamdulillah, berdirinya YISC cukup mendapat respon positif dari masyarakat. Pada masa itu cukup ngetrend kelompok-kelompok atau geng-geng muda-mudi yang kebanyakan mempunyai kecenderungan memuja prilaku negatif, hedonis dan mbalelo dari norma-norma kehidupan yang berlaku di masyarakat kita. Gejolak dan perilaku sosial itu mengarah pada ekses negatif, hal ini tentu saja teramat memprihatinkan. Hal itu juga ditambah lagi dengan menyusutnya organisasi-organisasi kepemudaan. Dengan latar belakang demikianlah kegiatan YISC memberi alternatif kegiatan bagi kaum muda saat itu.
Kajian demi kajian mewarnai aktivitas remaja Masjid Al-Azhar ini. Penceramah yang tampil diantaranya HM Rasyidi, Prof. Dr. Zakiyah Drajat dan Buya Hamka. Tokoh-tokoh tersebut dikenal memiliki komitmen yang tinggi dalam membina umat dan beliau-beliau itulah yang secara aktif membimbing generasi muda Al-Azhar kala itu.
Dilihat dari proses kelahirannya, YISC memang merupakan organisasi yang sangat sederhana dan tanpa tujuan yang muluk-muluk. YISC berorientasi menggugah semangat beragama secara kontekstual. Pendidikan yang diadakan YISC lebih berfungsi sebagai pembekalan untuk kehidupan sehari-hari. Keinginan untuk melakukan dialog-dialog keagamaan tanpa melupakaan konteksnya terhadap kehidupan merupakan visi belajar YISC.
Bagi sahabat-sahabat yang terbiasa dengan lingkungan yang homogen dalam beragama mungkin merupakan kesempatan yang baik untuk belajar memahami berbagai macam perbedaan di YISC. Dalam perjalanannya hingga kini, YISC telah mengukir banyak prestasai melalui kegiatan-kegiatannya yang bersifat perintis atau pionir, pengembangan diri, serta kegiatan yang bermanfaat bagi kepentingan umat.
Dalam lima tahun terakhir kegiatan YISC antara lain: Jambore dan Baksos di Lebak (97); Dapur Reformasi (98); Sunatan Massal (99). Kegiatan pada Tahun 2000/2002: Posko Bengkulu; Gempita Anak Sholeh; Dialog Interaktif di Cafe; Pesantren Anak Bank Mandiri; Pesantren Anak Pertamina Balongan, Festival Nasyid Sejabotabek; Orasi Kebudayaan; Silaturahmi Remaja Masjid; YISC Peduli Thallasaemia; dan berbagai kegiatan rutin seperti Muhasabah Tahun Baru, Cahaya Ramadhan Cahaya Masjid. Pada peringatan Hari Idul Adha, YISC tercatat telah melakukan kegiatan pemotongan dan pembagian hewan qurban di daerah yang tingkat ekonominya memang perlu dibantu, Desa Dago, Parung, Bogor (05/03/01). Kegiatan yang sama dilakukan pada tahun berikutnya di Desa Cibeuteung Muara, Parung (23/02/02).
Kepedulian YISC terhadap kaum dhuafa diwujudkan melalui kegiatan rutin yang bersifat pembinaan adik asuh yang berasal dari kalangan keluarga kurang mampu. Kegiatan ini berada dalam wadah Pembinaan Adik Asuh YISC atau lebih dikenal dengan PAYISC
Demikian gambaran singkat kelahiran dan jejak langkah perkembangan YISC sebagai organisasi Remaja Masjid pertama di nusantara ini.

















