Kepemimpinan

1 . Filomena Ibrahim (1971 - 1972)

filomenaMenjadi pendiri sekaligus Ketua Umum YISC pertama kali adalah karya besar yang tidak dapat dilupakan dari sosok Filomena Ibrahim. Bersama rekan-rekannya, keberaniannya melahirkan YISC sebagai wadah bagi remaja masjid mampu mengilhami lahirnya perkumpulan remaja masjid seantero negeri ini. Daya dukung yang mantap dari masjid Al Azhar, diikuti dengan inovasi-inovas kegiatan yang serba baru, menjadikan kepemimpinannya menonjol dan menarik perhatian banyak pihak. Sikap otoriter positif yang dijalankan oleh Beliau menjadi sisi lain kepemimpinannya, karena kondisi sebagai perintis yang membutuhkan energi tersendiri. Dengan kepiawaiannya, Filomena menjembatani semua unsur anggota, pengurus YISC dan pengurus masjid, melahirkan kemesraan hubungan yang mantap bagi dinamika YISC selanjutnya.

2 . Farida Hayati TB (1972 - 1973)

faridaDengan berbagai keterbatasan, Farida Hayati berusaha melanjutkan perputaran roda organisasi bersama para perintis. Latar belakangnya sebagai pekerja sosial mewarnai tipe kepemimpinannya. Farida mampu menciptakan komunikasi sosial psikologis yang akrab, penuh kesabaran, sehingga terjalin solidaritas kelompok dan organisasi antara anggota dan pengurus YISC.

3 . Bambang Gunawan (1974 - 1975)

bambang gunawanBambang Gunawan ini bisa disebut sebagai tipe teknokrat. Tantangan bidang manajemen keorganisasian menjali tolak ukur kangkah-langkahnya ke depan. Kunci keberhasilannya sebagai ketua umum adalah peletakan dasar-dasar organisasi yang teratur dan profesional. Semua perangkat organisasi, rencana kegiatan, pelaksanaan, laporan kegiatan dikerjakan dengan baik dan teratur. Implikasinya, YISC menjadi organisasi pemuda yang mampu menampilkan diri sebagai organisasi yang kreatif, aktif, serta berwibawa.

4 . Muhammad Anwar (1976 - 1977)

muhammad anwarTipe kepemimpinan Muhammad Anwar bisa disebut solidarity maker. Ia menerima siapa saja yang mempunyai niat dan saran yang baik untuk kemajuan YISC. Upaya yang dilakukannya mampu menanamkan rasa kebersamaan yang tinggi di antara pengurus YISC dengan YPI (Yayasan Pesantren Islam) Al Azhar, serta memperluas jangkauan YISC hingga ke taraf nasional. Bersama rekan-rekannya, ia mempelopori berdirinya BKPMI (Badan Komunikasi Masjid Indonesia).

5 . M. Syafi’i Anwar (1978 - 1979)

muhammad syafi'iM. Syafi’i Anwar adalah anak angkat alm. Buya Hamka. Keinginannya adalah menjadikan YISC organisasi pemuda Islam yang kuat dan berwibawa. Ia ingin civitas YISC menjadi sosok yang memiliki kriteria insan kamil, yaitu The Man of Religious, The Man of Ideas, The Man of Action. Salah satu cara yang ia lakukan untuk mewujudkan cita-citanya itu adalah dengan mengundang tokoh-tokoh nasional untuk mengisi ceramah di YISC. Ia juga melakukan studi banding bersama Fajri Gumai dan Jimly Asshidiqqie

6 . Jimly Asshidiqqie (1980 - 1981)

jimly ashshidiqqieDi samping menyempurnakan hasil kepemimpinan terdahulu, Jimly Asshidiqqie sangat mengutamakan kualitas pengurus. Masing-masing pengurus dipacu untuk bersaing secara sehat dengan menunjukkan eksistensi bidang, seksi, lembaga dan departemen mereka. Tipe kepemimpinannya adalah motivator sehingga mampu menggerakkan organisasi. Selama kepemimpinannya, ia memperkenalkan konsep “Jamaah memakmurkan masjid, masjid memakmurkan jamaah.”

7 . Zainal Arifin (1982 - 1983)

zainalZainal Arifin adalah tipe pemimpin yang sangat akomodatif. Semua kegiatan dan program YISC berjalan baik. Ia mampu meningkatkan kemampuan dan keterampilan civitas YISC. Berkat kerja sama yang baik antara pengurus dan pihak terkait, gerakan-gerakan yang bergerak di luar tidak mempengaruhi pengalaman YISC selanjutnya.

8 . Dwiana Ocvianti (1984 - 1985)

dwianaSalah satu keinginan Dwiana Ocvianti adlaah meningkatkan wibawa YISC di kalangan remaja, mahasiswa dan pemuda, terutama di lingkungan Kebayoran Baru. Antusiasmenya yang tinggi dan dukungan berbagai pihak menjadi obor yang menyemangati langkah estafet kepemimpinannya. Ia tidak segan-segan memulai dari yang kecil, asal bermanfaat. Ia memutar roda organisasi dengan semangat pantang menyerah.

9 . Mukhlis Yulizar (1986 - 1987)

mukhlisGuna menunjang program YISC, Mukhlis Yulizar merekrut orang-orang yang sukses di bidang pendidikan. Cita-citanya adalah menjadikan YISC organisasi pemuda yang sarat dengan nilai-nilai Islam. Pada periodenya, Ceramah Umum kembali digelar sebagai forum pertemuanantar anggota, pengurus, alumni, dan simpatisan.

10 . Mangku R. Dahlan (1988 - 1989)

mangku dahlanTidak jauh berbeda dengan pendahulunya, Mangku R. Dahlan adalah orang yang dekat dengan pengurus YPI Al Azhar. Pendekatan yang ia lakukan bersifat kekeluargaan. Kegiatan berjalan sebagaimana mestinya dan tidak ada perubahan yang mendasar. Pola pembinaan yang ia jalankan lebih mengarah pada perwujudan ukhuwah islamiyah. Pada periode ini, training aqidah dan nilai dasar Islam mulai digalakkan.

11 . Mukhsin Ikhmer (1990 - 1991)

mukhsin ikhmerMukhsin Ikhmer dinilai sebagai tipe pemimpin yang birokratis karena lebih mementingkan manajemen yang sistematis. Pada periode ini muncul Lembaga Litbang yang diharapkan mampu memberikan masukan serta kritik sebagai kontrol yang lebih bermakna demi jalannya organisasi, serta FCI(Forum Cinta Ilmu) sebagai wadah pengembangan wawasan serta sarana mewujudkan tumbuhnya tradisi keilmuan di kalangan civitas YISC.

12 . Djauhari (1992 - 1993)

djauhariJiwanya sebagai guru sangat mempengaruhi kepemimpinan Djauhari (Kak Jo). Kedinamisan organisasi tampak di sana-sini sehingga nyaris menggoyahkan stabilitas yang ada. Yang perlu dicatat pada periode ini adalah diadakannya Pesantren Liburan bagi siwa-siswi SMP dan SMU.

13 . H.E. Benyamin (1994 - 1995)

benyaminH.E. Benyamin adalah ketua umum yang termasuk nyentrik. Ia mengaku anak Dayak, padahal sebenarnya campuran Arab, Pakistan, dan Cina. Lulusan Elektro UKI ini tidak suka formalitas. Gaya kepemimpinannya akomodatif. Tercatat dua seminar nasional yang berhasil digelar, yaitu “Pemikiran dan Perjuangan Mr. Sjafrudin Prawiranegara” dan “Pemikiran dan Perjuangan Mohamad Natsir.”

14 . Immaddudin Abdullah (1996 - 1997)

immadSlogan yang dipopulerkan Immaddudin Abdullah (Bang Imad) adalah “Komunitas Belajar dan Berakhlak.” Ia lebih menekankan pembinaan anggota dengan membentuk Departemen Pembinaan Anggota dan Kaderisasi (PAK). Pada periode ini dibentuk PAYISC (Pembinaan Adik Asuh YISC).

15 . Ferlita Sari (1998 - 1999)

ferlitaFerlita Sari menggulirkan slogan “Integralisasi Iman, Ilmu dan Amal Menuju Komunitas Belajar dan Berakhlak.” Ia bertekad memfokuskan program YISC untuk menjadikan civitas YISC insan yang utuh. Hasilnya, paradigma belajar di YISC bergeser dari pedagogi menjadi andragogi.

16 . Surya Dharma (2000 - 2001)

suryaSurya Dharma memiliki sikap yang kooperatif. Ia mengakomodasi keinginan yang berkembang dan menuntut setiap bidang hadir secara profesional. Di bawah kepemimpinannya, Departemen Pengabdian dan Hubungan Masyarakat (PHM) diubah menjadi Departemen Pengabdian dan Pengembangan Masyarakat (PPM). Ia juga membentuk Lembaga Kajian. Slogannya adalah “Komunitas Belajar dan Berakhlak dengan Usaha Berkelanjutan adalah Cita-cita Kita Bersama.”

17 . Heru Widianto (2002 - 2003)

heruHeru Widianto adalah tipe pemimpin yang pluralistik. Ia adalah seorang organisator sekaligus akomodator yang senang menggalang berbagi kalangan. Ia pernah diundang untuk mewakili Indonesia pada acara The First Young Muslim Secretariat Convention di Singapura, 9-11 Agustus 2001. Juga menggalang kerja sama dengan perusahaan-perusahaan swasta untuk aksi-aksi sosial YISC, dan mengembangkan website dan mailing list YISC. Ia menginginkan civitas YISC berperan aktif di lingkup sosial dengan berpegang teguh pada konsep ketauhidan, serta menjadi manusia yang sadar akan hakikat kemanusiaannya.

18 . Akhmad Masun (2004 - 2005)

ahmadSebelum menjabat sebagai ketua umum, Akhmad Masun sudah terbiasa menjalin komunikasi yang baik dengan civitas YISC. Sebelumnya ia menjabat sebagai Ketua Bidang Sosial dan Hubungan Masyarkat. Visi dan misinya adalah menjadikan YISC tempat pembelajaran diri dalam segala hal agar YISC ke depan lebih dinamis, kreatif dan secara langsung maupun tidak, dapat memberikan kontribusi kepada masyarakat, bangsa, dan negara.

19. Ahmad Qudratu S. Q. (2006 - 2007)

qudratBang Qoqo atau Mas Qo begitulah kadang dia disapa. Ketum yang mempunyai nama lengkap R Ahmad Qudratu SQ ini mempunyai gaya kepemimpinannya yang mengakomodir semua kalangan, sesuai slogannya dalam memimpin, yaitu, Bekerja sama dalam hal yang disepakati dan bertoleransi dalam hal yang tidak disepakati. Hal ini tersirat pula dalam slogan dari ketum satu ini yaitu :" Bila seseorang datang dengan tangan terbuka, maka akan saya sambut dengan tangan terbuka pula, tetapi bila ada seseorang yang datang dengan tangan terkepal, maka saya tetap sambut kepalan itu dengan tangan terbuka ".
Tanggung jawabnya dan komitmen terhadap suatu amanah yang diembannya membuat dirinya dipilih oleh banyak orang untuk menjadi ketua. Selain itu ketum kita satu ini juga seorang motivator handal dan tempat berkonsultasi yang asik.. Dengan kompentensi tersebut, Ketum ini mempunyai cita-cita ia ingin turut serta dalam kebangkitan Islam. Keinginannya sederhana untuk YISC Al Azhar yaitu menjalankan Islam secara kaffah dan menjadikan YISC Al Azhar sebagai remaja masjid terdepan di Jakarta.

20. Abdur Rochman (2008 - 2009)

abdur rochmanPemuda kalem, aktif dan Visioner ini mempunyai konsep “Management of Change”, senantiasa melakukan manajemen perubahan yang inovatif dan kreatif terhadap YISC. Dari pola sistem pendidikan, kepemanduan, TF hingga program praktek Manasik Haji perdana saat menjadi Ketua Dept. Pendidikan. Ketika menjadi Ketua Umum, Dept. Pendidikan mengalami perubahan yang signifikan menjadi Dept. Pendidikan Pembinaan & Kaderisasi (P2K). Meng-create Bidang Keputrian, Divisi Pemberdayaan dan Keterampilan sebagai rasa kepeduliannya terhadap kaum wanita. Tujuannya mengajak civitas turut serta berkontribusi melalui YISC untuk Kebangkitan Islam (Syahwah Islamiyah).