Jambore Maret 2009
Indahnya Ukhuwah di Gunung Bunder
Sabtu sore itu 7 Maret 2009, di depan sekretariatnya YISC terjadi keributan! Hah? Siapa yang ribut, ada apa? Ups, ternyata sedang ribet persiapan acara Jambore YISC 2009. Acara akbar YISC Al Azhar ini memang sudah lama ditunggu-tunggu, karena seharusnya jambore dilaksanakan pada setiap pergantian pengurus. Mengambil lokasi di Gunung Bunder Bogor, Jawa Barat, peserta diberangkatkan dengan menggunakan dua tronton. Kebayang gak sih ada didalamnya, rasanya seperti mau berangkat perang aja. Tapi justru disinilah keakraban peserta mulai terjalin, karena pesertanya terdiri dari berbagai angkatan.
Selama diperjalanan cekikikan peserta tak ada hentinya, rasa cape, haus, dan lapar seolah tak berarti. Karena untuk sejenak mereka bisa lepas dari hiruk-pikuk Jakarta yang melelahkan. Terbayang udara yang dingin, pemandangan yang indah di atas bukit, rimbunnya pohon yang menebarkan kesejukan. Huh… Tak sabar rasanya ingin segera menikmati semua itu.
Setelah beberapa jam perjalanan, sampailah dilokasi jambore saat malam telah tiba. Begitu menginjakkan kaki, hawa dingin menyergap tubuh hingga menusuk jantung. Ternyata hujan baru saja mengguyur lokasi tersebut, tapi alhamdulillah pada saat peserta tiba dilokasi hujan telah reda. Segera saja peserta yang dibagi menjadi beberapa kelompok, mendirikan tenda untuk beristirahat. Ya… Selama ini kalau jalan-jalan menginap di villa yang nyaman, sekarang baru tahu rasa betapa susahnya menjadi seperti para pengungsi.
Teng..teng... Waktu makan tiba, hore… Akhirnya ini perut yang dari tadi keroncongan bisa terisi. Walaupun dengan menu seadanya dan makan malam dalam kegelapan, peserta terlihat asik menikmatinya. Sambutan dari ketua panitia, serta ketua umum YISC mengiringi pembukaan acara jambore dengan tema Menjalin Ukhuwah dalam Indahnya Kebersamaan.
Malam semakin larut waktunya untuk istirahat, peserta kembali ke tenda masing-masing. Anganku menerawang jauh, saat merasakan tidur beralaskan tanah, beratapkan langit-langit tenda yang sempit dan berdesakan dengan peserta lain. Ternyata selama ini kita lupa atas kenikmatan hidup yang serba kecukupan, tidur dikamar yang nyaman, dan bisa makan apapun yang kita inginkan. Ya Allah terima kasih atas semua ‘Afiat yang telah Engkau limpahkan… Begitulah perasaanku saat itu berkecamuk.
Malam pertama terlewati sudah, hanya beberapa jam mata ini terpejam karena pukul 04.00 dini hari panitia sudah membangunkan untuk melaksanakan sholat Shubuh berjamaah. Suasana dingin terus menggelayut, menambah kesyahduan untaian doa-doa Almatsurat yang dilantunkan para peserta. Kultum oleh pak Alvin pun melengkapi nuansa sendu pagi itu dengan mengurai makna kandungan surat Al ‘Asr, “Demi masa, Sungguh manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran, dan saling menasihati untuk kesabaran.”
Pagipun menyapa, mentari menebarkan kehangatannya dari balik bukit. Peserta berkumpul di lapangan untuk melaksanakan kegiatan stretching (senam pagi) sebagai pemanasan fisik untuk melakukan outbond. Kemudian dilanjutkan ice breaking untuk memecahkan kebekuan antar peserta antara lain dengan permainan bos berkata, seven up, angin ribut, tupai dan pohon. Selanjutnya adalah games grouping yaitu kapal pecah, cermin, cutter pillar dan ular naga. Dari semua games tadi mengandung makna, bahwa dalam suatu organisasi kita harus bekerjasama dan menunjukkan kekompakan masing-masing tim. Suasana menjadi heboh dan seru dengan dipandu oleh tim trainer dari Neo Adventure, mereka bisa aja deh ngerjain peserta hehe…
Diselingi sarapan pagi, acara games dilanjutkan dengan TPS system (Team Problem Solving) atau bisa disebut dengan pos penyelesaian masalah. Didalam games ini antara lain Gincu Mix, People Tree, Bom Disposal, Spider Web dan Transfer Ball. Dimana masing-masing kelompok harus menunjukkan kekompakannya, untuk mendapatkan satu reward. Beranjak ke permainan High Rope yaitu sebagai pengujian untuk masing-masing peserta jika mereka melihat temannya dalam kondisi yang sulit, responnya adalah apakah ukhuwahnya sudah terlihat atau masih terlihat keegoisannya masing-masing. Memang games ini membutuhkan keberanian dan andrenalin yang tinggi, seperti saat terbang dengan Flying Fox, tantangan Two Line Bridge dan Burma Bridge, serta sulitnya Cargo Net. Sehingga disinilah team building yang dibangun dari awal akan terlihat berhasil atau tidak.
Dari keseluruhan games tadi, maknanya adalah bagaimana menjadi team building yang solid. Dan intinya adalah bagaimana menjadikan masing-masing divisi di YISC bisa lebur, dapat bekerjasama dalam sebuah organisasi yang bernama YISC Al Azhar. Jadi dari masing-masing divisi harus ingat bahwa tujuannya bekerja adalah untuk membangun YISC menjadi lebih baik. Sebuah pesan dari trainer “Kunci agar suatu acara berjalan baik, adalah sebuah persiapan yang baik. Karena ketika kita gagal mempersiapkan, artinya kita mempersiapkan itu gagal.” Artinya ketika kita mempersiapkan sebuah acara, harus kita perhitungkan dari segi pelaksanaanya, tempo, dan paling utama adalah goal dari acara itu apa. Wah panitia dapat masukan tuh…
Langit senja menggelayut, mataharipun beranjak keperaduannya dan angin dingin kembali menghampiri. Rangkaian acara dimalam kedua sungguh menguji nyali peserta, ditengah kegelapan malam itu masing-masing dua peserta diminta menyusuri terjalnya jalan perbukitan Gunung Bunder. Rasa takut dan bingung berkecamuk dipikiranku, yang pasti saat itu hanya namuMu ya Allah yang kusebut. Beberapa saat kemudian tibalah peserta diatas bukit, dan ternyata disana telah dipersiapkan api unggun ceremony. Disinilah peserta diajak untuk intropeksi diri, selama ini apa yang telah kita lakukan untuk YISC.
Rangkaian acara berakhir sudah, peserta melakukan persiapan kembali ke Jakarta. Tak lupa penutupan acara oleh panitia, diiringi salam-salaman dengan peserta. Ada yang tak terlupakan, kesan dari Rani angkatan Al Fikr ikut jambore sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Kemudian pesannya, semoga teman-teman bisa meningkatkan kinerja dan ukhuwahnya. Riri angkatan Al Fikr juga mengungkapkan pengalamannya, dengan ikut Jambore ia bisa lebih mengenal civitas YISC yang lain. Lain lagi cerita Atiek dari angkatan As Shaff, ia harus mengalami cidera saat mengikuti games. Namun Atiek pun mengakui bahwa keseluruhan acara jambore membuatnya sangat berkesan. Sesi pemotretanpun tak bisa dilupakan begitu saja, secara… semua peserta emang narsis abisss… Perjalanan pulang menjadi satu kebahagiaan tersendiri, dengan mengunjungi air terjun yang tak jauh dari lokasi jambore. Disinilah tempat dimana memori jambore berakhir indah. Namun tidak bagi Pak Ketum dan Pak Sekum yang mengalami pemaksaan oleh peserta dilemparkan kedalam air terjun, Maaf ya Pak! Hehe... Tak bisa dipungkiri, jambore kali ini sebagai bukti akan indahnya kebersamaan menjalin ukhuwah. (DiNi)



















baru liat artikel Dini mejeng disini... (biasanya saya liatnya di kompi dengan penuh kepusingan karena sambil di edit) hehehe... bagus-bagus.. lanjutkan!