Thawaf, Isyarat Kepatuhan
Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan): "Janganlah kamu memperserikatkan sesuatupun dengan Aku dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadat dan orang-orang yang ruku' dan sujud. (Al-Hajj/22:26)
Allah SWT mengusir Nabi Adam as dari surga ke bumi. Adam as sangat sedih karena dirinya tidak bisa lagi thawaf bersama para malaikat mengelilingi singgasana Allah SWT, ‘Arsy. Kerinduan Adam as terobati dengan dibangunnya Ka'bah sebagai Baitullah. Bangunan itulah miniatur ‘Arsy di bumi.
Bersama anaknya, Nabi Ismail as, Nabi Ibrahim as lalu meninggikan dasar-dasar (fondasi) Ka’bah. Ibrahim as bersama anaknya pun thawaf mengelilingi Ka’bah sesuai perintah Allah SWT. Thawaf merupakan warisan Adam as, Ibrahim as, Ismail as hingga Nabi Muhammad Saw. Ibadah ini lalu diwariskan kepada Umat Islam hingga sekarang.
Sesungguhnya ritual Haji yang dilakukan jama’ah haji melalui Thawaf dan berlari kecil (sya’i) mengelilingi Ka’bah tidak hanya mengikuti cara ibadah malaikat dan nabi. Namun thawaf pada hakikatnya adalah peniruan prilaku alam semesta.
Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud
apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar daripada manusia?
Dan banyak di antara manusia yang telah ditetapkan azab atasnya. Dan barangsiapa yang dihinakan Allah maka tidak seorangpun yang memuliakannya.
Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.
(QS. Al-Hajj/22:18)
Ternyata Al-Qur’an telah menginformasikan, seluruh benda langit di jagad raya juga melakukan "thawaf" yang sama. Bulan dan bumi ber-thawaf mengelilingi matahari. Matahari beserta seluruh familinya juga berthawaf mengelilingi pusat galaksi, dan seterusnya.
Lebih mengagumkan lagi, benda terkecil electron pun berputar mengelilingi proton. Padahal, konsep Atom saja baru ditemukan ilmuan barat 7 abad setelah Al-Qur’an diturunkan. Ahli kimia di abad 14 Hijriah pun baru bisa menjelaskan, atom seperti hydrogen terdiri Rawasia dari satu batang magnet yang berputar (Proton) dan menjadi inti sumbunya. Benda itu lalu dilingkupi oleh Mar’a, (Electron dan Positron). Mar’a pun terbukti mengorbit (berthawaf) mengelilingi Proton. Tidak hanya itu, malam pun berputar (berthawaf) dengan siang tanpa saling mendahului. Itulah bukti, bahwa alam semesta tunduk patuh menyembah kepada Allah SWT.
Pun hidup kita. Ia hanyalah miniatur thawaf. Lihatlah bagaimana setiap hari kita hidup bersama waktu yang terus berputar/berotasi (berthawaf), 24 jam/hari. Ini semua membuktikan bahwa manusia juga harus senantiasa tunduk pasrah (ber-islam) melalui sujud dan ruku melalui sholat 5 waktu setiap hari mengikuti perputaran waktu.
Karena itulah sangat aneh jika ada manusia yang tidak mau berpasrah total kepada-Nya. Padahal atom terkecil dalam jasadnya pun pada hakikatnya tunduk patuh kepada-Nya.
Pantaslah jika seorang muslim senantiasa menjaga ketauhidan ibadah. Laa ilaaha-illallaah.
Pun, aturan Allah-lah yang seharusnya terwujud dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat sebagai bukti keshalehan sosial.
Thawaf. Itulah cara Tuhan berbicara dengan makhluk-Nya. Aturan yang ada sejak ketiadaan hingga zaman yang kita tidak akan pernah tahu batasnya. Ketika jutaan manusia berthawaf mengellingi Ka’bah, itulah cerminan hukum Tuhan yang terus bergerak melintasi waktu. Karena itu, tunduk dan patuhlah hanya kepada-Nya. Karena thawaf adalah kepasrahan total.
Semoga jalan lurus selalu terpijak oleh kedua belah kaki kita. Melangkah pasti menuju ridho-Nya. Berjalan seiring dengan Nabi, Rasul, Tabi’in, Aulia, Ulama, Syuhada dan orang-orang Sholeh). Terhindar dari jalan yang termurkai (QS. Al-Fatihah/1: 6-7). Amien.
Wallahu a’lam Bish-showwab...
Sumber : Ayat-ayat Qauliyah dan Kauniyah
Abdur rochman
Ketua Umum YISC Al-Azhar periode 2008-2009



















