Kalau Saja Pemimpin Bangsa Ini Lebih Berani
Pertikaian Israel Palestina seharusnya turut melukai kita sebagai bangsa Indonesia. Palestina adalah negara yang paling proaktif mendorong dan mengakui Indonesia sebagai negara merdeka yang berdaulat. Selain itu, pernyataan tegas dalam UUD 45, “ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial” sudah cukup untuk menjadi alasan kuat peran serta bangsa kita terhadap penjajahan Israel terhadap Palestina. Apalagi mayoritas bangsa Indonesia adalah pemeluk agama Islam.
Ummat Islam saat ini terpecah belah berkeping-kepingan bagaikan serpihan tak berguna. Kepingan-kepingan itu seringkali berkumpul dan berdiskusi namun tak mampu melekat menjadi satu. Padahal seharusnya kita semua mau bersatu menjadi sebuah mozaik yang indah, penuh perbedaan namun dilekat erat oleh “lem” keimanan dan dalam sebuah "pigura" ukhuwah Islamiyah. Maka ummat lain akan melihat ummat Islam dimuka bumi ini sebagai ummat modern yang menyatukan perbedaan-perbedaan itu dalam sebuah peradaban yang indah dan rahmatan lil alamin.
Persatuan itu belum terjadi, karena ummat Islam masih belum menemukan (atau bahkan salah memilih) pemimpin di negeri masing-masing. Banyak pemimpin bangsa yang beragama Islam, namun sayangnya tidak memiliki wawasan keislaman yang luas dan dalam. Jadi wajar kalaupun para pemimpin itu bertemu dalam konferensi-konferensi (yang katanya) tingkat tinggi, tetap hanya menjadi kumpulan pemimpin negeri yang tak berdaya. Hanya bisa bersepakat mengeluarkan kecaman, tuntutan, dan himbauan, seingat saya malah hampir tak pernah mengeluarkan ancaman. Setelah itu, tak bisa berbuat apa-apa, namanya juga kumpulan pemimpin negeri tak berdaya.
Dalam kondisi yang berkeping-keping ini, maka yang dilihat adalah kepingan yang paling besar. kepingan itu adalah Indonesia. Karena itulah untuk mencegah Islam berjaya kembali, prioritas utama musuh-musuh Islam adalah memecahkan kepingan besar itu menjadi kepingan-kepingan lebih kecil. Hal itu sempat hampir terjadi, ketika kebebasan beragama kaum muslimin yang mayoritas dibelenggu dan menjadi “tabu” pada era orde lama dan orde baru.
Tapi saat ini, kepingan besar itu tak jadi retak, justru semakin kokoh . Harum wangi Islam terhirup sampai kepelosok negeri, kebenaran dan kebatilan yang sempat berkumpul dalam iklim syubhat kini mengkristal menuju kutubnya masing-masing. Ummat Islam di negeri ini kembali menggeliat menunjukkan eksistensinya. Yang jauh dari nilai-nilai Islam kini mendekat, yang kiri dan kanan bergerak ketengah ke area moderat, yang ekstrim dan sesat terlihat dengan jelas.
Kembali hadirnya Islam di hati kaum muslimin, bukan hanya terjadi di Indonesia, namun hasil kerja dakwah itu mulai terasa dampaknya diseluruh pelosok negeri, baik di negeri-negeri muslim maupun negeri-negeri yang mayoritas non-muslim. Hadirnya Islam itu membuat ummat lebih siaga dan responsif terhadap perkembangan dunia Islam kontemporer.
Indonesia sebagai kepingan terbesar, seharusnya memiliki pengaruh yang luar biasa bagi negeri-negeri muslim lainnya. Indonesia harus memiliki pemimpin yang berani dalam menentukan kebijakan yang lebih kongkrit tehadap dunia Islam. Jika saja pemimpin bangsa kita lebih berani, kita bisa menyerukan dan mengajak negeri-negeri Islam untuk mengirimkan pasukan membela palestina. Saya yakin, Israel dan Amerika akan kalang kabut dan tak akan memperpanjang konflik. PBB dan DK pun rasanya harus berpikir ulang jika ingin memberikan sanksi kepada negara-negara timur tengah dan asia tenggara yang kompak. Orang-orang Barat sudah hidup terlalu nyaman, jangankan berperang, hidup sedikit tidak nyaman saja sudah membuat mereka pusing tujuh keliling.
Jika negara-negara timur tengah dan asia tenggara diembargo, siapa yang menyediakan bahan mentah dan minyak mentah untuk kebutuhan bahan bakar dan produksi dunia. Sebaliknya, kita bisa mengolah bahan mentah itu untuk memenuhi kebutuhan hidup, walaupun dengan menggunakan teknologi seadanya.
Saat ini Israel dan Amerika sedang menjebak dirinya menjadi common enemy, inilah moment yang paling tepat bagi negeri-negeri Islam untuk membantu saudara muslim di Palestina dan menyerang Israel, kita memiliki alasan yang kuat. Saya yakin, negara-negara barat sangat menghindari terjadinya perang dunia. Israel, Amerika dan negara barat serta Jepang memang memiliki kekuatan militer yang hebat, namun jumlah tentara mereka terbatas dan tidak memiliki militan yang siap secara mental dan fisik untuk diterjunkan dalam pertempuran. Sedangkan negeri-negeri muslim memiliki tentara dan jutaan militan yang siap tempur.
Sayangnya negeri-negeri muslim terlalu kaku dan kurang lihai dalam berdemokrasi. Bahkan Saudi Arabia, Uni Emirat Arab dan lainya yang sistem negaranya tidak demokratis ikut-ikutan sok demokratis. Tidak berani membela saudaranya yang teraniaya, dibantai dan diusir dari negerinya. Padahal genocide yang terjadi di Palestina adalah sebuah tindakan yang melanggar demokrasi, lalu para pengusung demokrasi tidak demokratis dalam menangani hal ini, lalu kenapa kita harus demokratis?
Wallahu a’lam....
Ahmad Qudratu
Ketua Umum periode 2006-2007
Sumber: http://qudrat.multiply.com/journal/item/120/Kalau_Saja_Pemimpin_Bangsa_I...



















