Buya Hamka : Kebahagiaan dan Tasauf Modern

Kebahagiaan menurut Buya Hamka dan Buku Tasauf Modern

Oleh : Heru Widiyanto*)

hamkaTentu kita semua tahu siapa Buya Hamka. Kalaupun ada yang belum tahu, sebagai keluarga besar Al-Azhar, akan lebih baik kalau kita tahu siapa beliau. Beliau adalah sastrawan, sejarahwan dan ulama besar bangsa Indonesia. Pemikiran dan perjuangan dakwahnya mengantarkan beliau mendapat gelar kehormatan Doktor Honoris Causa dari Universita Al-Azhar Cairo tahun 1959. Masih ada kaitannya dengan hal tersebut pula nama Al-Azhar di tambahkan ke nama Masjid Agung Kebayoran, dimana beliau menjadi imam besarnya. Akhirnya Masjid Agung Kebayoran berganti nama menjadi Masjid Agung Al-Azhar, dan akhirnya Al Azhar menjadi nama-nama sekolah Islam diseluruh Indonesia yang berada dibawah naungan maupun kerjasama dengan Yayasan Pesantren Islam (YPI) Al-Azhar.

Atas peran besar Buya Hamkalah nama Al-Azhar melekat dalam keluarga besar kita. Beliau adalah imam besar pertama Masjid Agung Al-Azhar dan Ketua Umum pertama Majelis Ulama Indonesia. Tak cukup hanya mengagumi nama besarnya, akan lebih mengagumkan bila kita bisa memahami pemikiran, gagasan dan perjuangannya. Dengan menyelami karya-karyanya, seperti Tafsir Al-Azhar yang monumental, juga buku Tasauf Modern yang ditulis almarhum tahun 30-an, namun tetap layak dibaca hingga saat ini karena isinya masih relevan dengan kondisi sekarang.

Sebelum dijadikan buku, Tasauf Modern adalah salah satu rubrik dalam majalah “Pedoman Masyarakat” yang beliau pimpin di Medan,. Karena banyak permintaan pembaca, rubrik itu dijadikan buku dengan cetakan pertama pada Agustus 1939. Buku ini masih dicetak ulang sampai cetakan ke IV pada Juni 2003. Sebetulnya isi rubrik yang kemudian menjadi buku ini menerangkan tentang Bahagia. Tapi karena rubriknya sudah terlanjur terkenal dengan sebutan Tasauf Modern maka nama buku inipun mengikuti nama rubrik, yaitu Tasauf Modern. Hal ini juga menjadi bukti bahwa beliau dan pembaca saat itu mencintai hidup di dalam tasauf , yaitu tasauf yang diartikan dengan kehendak memperbaiki akhlak dan menshafakan (membersihkan ) hati yang dimodernkan dan diapliksikan diera modern seperti sekarang.

Buku yang terdiri dari 300 halaman yang terbagi dalam 12 bab ini, mengulas secara berurutan tentang apa itu bahagia dari berbagai pendapat baik Aristoteles, Tolstoy ,Al-Ghazali, Nabi Muhammad SAW dan filsuf-filsuf lainnya yang dikemas secara naratif. Pada bab-bab selanjutnya dibahas hubungan bahagia dengan agama, bahagia dengan keutamaan, kesehatan jiwa dan badan, bahagia dan harta benda, tentang tangga-tangga pencapaian bahagia maupun hal-hal yang menghambat kebahagiaan.

hamkaHal menarik yang disampaikan dalam buku ini adalah bahwa derajat bahagia manusia itu berbeda menurut derajat akalnya , karena akalah yang dapat membedakan antara baik dan buruk, akal yang menyelidiki hakekat dan kejadian dalam perjalanan hidup ini. Bertambah sempurna dan murni akal itu, bertambah pulalah tinggi derajat bahagia yang harus dan bisa dicapai. Sehingga kesempurnaan bahagia terdapat pada kesempurnaan akal. Ada orang yang mengejar harta benda dengan segala tenaganya demi mengejar bahagianya, namun ada pula yang mengabaikan harta benda tersebut dan memilih berkhalwat mengingat Tuhannya untuk mengejar bahagia. Ada yang bahagia di masyarakat keramaian tapi ada pula yang bahagia di kesunyian, ada yang belum bahagia dengan rumah dan mobil mewahnya namun ada pula yang bahagia dengan tercukupi makan sandangnya. Perbedaan pandangan hidup itu karena perbedaan tingkatan akalnya, karena berlainan pengetahuan, pendidikan dan lingkungannya. Karena sesungguhnya segala sesuatu yang di alam ini tetap dan sama saja, yang berubah adalah pendapat (cara pandang) orang yang mengamati dan mempelajarinya. Maka kepandaian manusia dalam mempelajarai itulah pangkal awal mau bahagia atau celaka.

Menurut Imam Al-Ghazali secara garis besar bahagia terdiri dari 5 bagian yaitu bahagia akherat ( kebahagiaan kekal atas ridha Allah) , keutamaan akal budi ( sempurna akal dgn ilmu, menjaga kehormatan diri, berani karena besar dan adil), keutamaan pada tubuh ( sehat, kuat, rupawan dan panjang umur), keutamaan dari luar tubuh ( harta, keluarga, sosial dan keturunan) dan keutamaan dari taufiq hidayah Allah (petunjuk dan tuntunan Allah sehingga kehendak dan kebahagiaain manusia selaras dengan Qodrat Allah SWT). Yang semuanya saling kait dan seimbang yang tak terpisahkan

Pada bab-bab terakhir banyak di uraikan Qanaah dan Tawakal, yang kalau salah mempersepsikannya bisa berpengaruh pada perjalanan hidup seseorang ataupun sebuah bangsa. Sangat beda Qanaah dengan bermalasan, sangat beda antara tawakal dengan melakukan pekerjaan yang sia-sia. Manusia di perintahkan untuk berserah diri dan menerima ketentuan Allah SWT setelah melakukan upaya-upaya maksimal karena manusia juga diperintahkan untuk membaca, berpikir, bergerak dan bekerja memakmurkan bumi ini.

Dinamika kehidupan akan terus berubah seiring perkembangan jaman namun tetap ada inti yang sama, yaitu bahwa hidup akan senantiasa bertemu masalah. Maka yang paling penting adalah cara pandang kita terhadap masalah yang ada dan bagaimana menyelesaikannya. Buku ini membuka referensi cara pandang tersebut dan bagaimana kita mensikapinya dengan konsep kebahagiaan a la Buya Hamka. Sebuah referensi nasehat terbaik dalam proses hidup kita, bahkan Buya Hamka sendiri membaca ulang ketika kondisi membutuhkannnya. Misalnya waktu dirawat di rumah sakit, Buya Hamka menasehati diri sendiri melalui bukunya. Kini, kitapun masih bisa mendapatkan nasehat-hasehat beliau dengan membaca karya-karyanya. (HRW-Jan05)

 

* Penulis adalah Ketua Umum YISC Al Azhar periode 2002-2003